Belajar Di Masa Pandemi, Daring atau Luring?

Toko Buku Online Belbuk.com

Belajar Di Masa Pandemi, Daring atau Luring?

Dede Anton Susanto

Sejak kasus pasien pertama positif covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020, semua sendi kehidupan di Indonesia mengalami goncangan yang cukup hebat, tidak hanya di Indonesia sebenarnya, karena wabah covid-19 ini sudah menjadi pandemi dalam arti sudah menjangkiti umat manusia di hampir seluruh dunia. Pemerintah dihadapkan pada ujian yang maha berat karena ternyata dampak yang ditimbulkan covid-19 berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan. Sektor ekonomi dan kesehatan menghadapi masalah yang cukup serius. Banyak perusahaan yang memutuskan mengurangi jumlah karyawannya karena perusahaan mereka hampir kolaps, selain itu ungkapan nyawa lebih berharga daripada uang juga turut andil dalam mengurangi aktivitas perekonomian. Meski di satu sisi ada kelompok masyarakat yang sepertinya lebih mengutamakan bekerja dibanding diam di rumah sambil berharap covid-19 segera berlalu. Pada bidang kesehatan lebih mengerikan lagi, menurut data yang dihimpun tim gugus tugas penanganan covid-19, selama hampir genap 10 bulan sejak kasus pertama muncul pada awal Maret 2020, sudah hampir 450 ribu orang divonis positif mengidap covid-19 dengan korban meninggal hampir 15 ribu jiwa! Sangat mengkhawatirkan! Hal ini tidak lepas dari belum berhasilnya upaya WHO dalam menemukan vaksin virus sehingga bisa dipastikan korban akan terus bertambah.

Lalu, apakah sektor pendidikan juga kena dampak dari teror yang ditebar si covid-19 ini? Jawabannya iya! Pendidikan di Indonesia juga mengalami turbulensi akibat ulah dari virus yang bersumber dari kelelawar ini. Didorong fakta bahwa korban semakin banyak, akhirnya banyak kepala daerah yang memutuskan untuk memberlakukan kebijakan lockdown bagi masyarakatnya agar mata rantai penyebaran virus bisa diputus. Di awali DKI Jakarta, akhirnya beberapa daerah lain pun latah untuk ikut-ikutan memberlakukan kebijakan yang sama dengan alasan yang sama pula. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah komando Mas Menteri Nadiem Makarim berdasarkan saran tim gugus tugas akhirnya memutuskan seluruh kegiatan pembelajaran dari mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi untuk sementara ditiadakan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hal ini merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan di Indonesia. Di awal kebijakan ini diterapkan, insan pendidikan (termasuk masyarakat) bisa menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Dinas pendidikan di daerah memutar otak untuk menemukan solusi yang tepat, bagaimana caranya agar peserta didik tetap mendapatkan layanan pendidikan di tengah keadaan yang penuh resiko. Setelah melewati beberapa tahapan diskusi akhirnya disepakati solusi yaitu pembelajaran daring (dalam jaringan) menggunakan aplikasi yang terdapat pada perangkat smarthpone atau laptop. Namun ternyata kebijakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Untuk kalangan yang setuju, pembelajaran daring disetujui karena lebih efektif dalam hal waktu dan tempat karena siswa tidak perlu repot-repot datang ke sekolah. Selain itu resiko tertular virus juga tidak akan terjadi karena siswa tidak mengalami kontak secara langsung dengan orang lain. Sedangkan bagi yang kontra, pembelajaran daring ini sangat perlu dipertimbangkan lagi karena bagi mereka pembelajaran daring ini cukup banyak kendalanya. Di antaranya masih banyak daerah yang belum memiliki jaringan internet yang stabil. Untuk  sekolah-sekolah yang terletak di perkotaaan, sepertinya hal ini bukan masalah tapi bagi sekolah yang terletak di daerah akan sangat kesulitan karena rata-rata belum terjangkau oleh jaringan internet yang bagus. Selain itu bagi peserta didik dari kalangan menengah ke bawah, pembelajaran daring ini dirasakan cukup  berat karena ternyata membutuhkan modal yang cukup besar. Di samping harus memiliki perangkat yang harganya di  atas satu juta rupiah, peserta didik juga dituntut memiliki kuota yang mencukupi sehingga pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik.

Banner Iklan Sariksa

Menyikapi hal tersebut dinas pendidikan pun kembali memutar otak untuk menemukan solusi tambahan. Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya ditemukan solusi, bagi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran daring, maka pihak sekolah wajib membuat modul yang akan digunakan siswa belajar di rumah. Guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan mempunya peran yang sangat penting untuk merealisasikan konsep tersebut. Hal ini merupakan tantangan, terutama bagi guru yang ada di daerah. Banyak rintangan yang dihadapi guru di antaranya, harus menyiapkan modul yang lengkap dan mudah dipahami siswa karena bagaimanapun tanpa dijelaskan oleh guru, siswa akan mengalami kesulitan dalam mencerna materi pembelajaran. Guru juga dihadapkan tantangan pada saat mendistribusikan modul ke tangan siswa. Masih banyak siswa yang berdomisili di tempat terpencil yang tentunya akses untuk menuju ke rumah siswa memerlukan perjuangan ekstra. Kadang guru juga menjumpai siswa yang kurang antusias untuk belajar, jangankan belajar dari rumah waktu belajar di sekolah pun siswa kurang semangat. Ini merupakan tantangan bagi guru untuk tetap menjaga  antusiasme peserta didik pada pembelajaran. Sehingga mood mereka tetap terjaga.

Namun di balik semua kesulitan yang terhampar, ternyata ada hikmah yang cukup besar bagi guru. Melalui pembelajaran daring guru akhirnya dituntut untuk memiliki skill dalam menguasai IT karena pembelajaran menggunakan aplikasi seperti zoom, youtube, google, whatsapp, dan lain-lain. Dengan demikian guru semakin paham dan mampu mengoperasikan aplikasi tersebut. Sedangkan pembelajaran luring berdampak pada meningkatnya silaturrahmi antara  guru dengan siswa. Guru juga bisa mengetahui keadaan siswa yang sebenarnya sehingga guru bisa memetakan siswa berdasarkan latar belakang dan keadaan sosial keluarganya. Jadi dapat disimpulkan wabah covid-19 ini selain membawa petaka yang cukup besar, juga menyelipkan hikmah yang sangat berharga bagi guru maupun siswa. Kapan pandemi ini akan berakhir? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya, sekian….

*Dede Anton Susanto*

Penulis adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Negeri 2 Cimerak Kabupaten Pangandaran. Penulis dilahirkan di Tasikmalaya, 18 September 1989. Penulis mulai mengajar di sekolah sejak tahun 2012 sampai sekarang. Penulis  tertarik pada topik pengalaman guru mengajar saat pandemi berlangsung. Semoga pandemi ini segera berakhir, aamiin.

Tinggalkan komentar