CERPEN PERJALANAN HIDUPKU PENUH LIKU

Toko Buku Online Belbuk.com

PERJALANAN HIDUPKU PENUH LIKU


Aam Aminih

Aku dilahirkan dari keluarga yang ekonominya lumayan ada dikarenakan ayahku
mengalami kebangkrutan usaha, ekonomi kami morat – marit. Aku anak ke 2 dari 4
bersaudara. Ayah dan ibuku tidak tamat SD, jadi untuk bekerja di sektor formal pun
susah karena tidak mempunyai keahlian alhasil ayah bekerja serabutan untuk
menghidupi keempat anaknya. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya
mengurus anak daan suami tanpa mendapatkan penghasilan tambahan.


Melihat keadaan orangtuaku yang kesusahan, aku dan kakakkuberusaha membantu
meringankan beban mereka, saat itu usiaku 10 tahun disaat anak- anak yang lain
bermain, tiap hari aku membantu salah satu guru yang kebetulan mempunyai kantin di
sekolah, aku ditugaskan untuk menjaga kantin disaat jam istirahat dan sepulang
sekolah saya juga membantu pekerjaan rumah guruku seperti cuci piring, beres- beres
rumah itu kulakukan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri supaya tidak
membebankan kepada kedua orangtuaku.


Setamat SD kulanjutkan pendidikan disalah satu sekolah menengah pertama negeri di
kampung ku. Berbekal kemampuan otakku yang lumayan aku mendapatkan salah satu
beasiswa selama 3 tahun. Untuk uang jajan hampir setiap hari ku berjualan buahbuahan yang ada di belakang rumahku, contohnya jambu, sirkaya, jambu, mangga dan
lain- lain. luamyan lah untuk jajan dan sebagian lagi ku kasihkan kepada ibuku untuk
keperluan sehari –hari.


Tak terasa waktu cepat berlalu 3 tahun sudah ku mengenyam pendidikan di sekolah
menengah pertama, dan alhamdulillah aku mendapatkan nilai yang sangat memuaskan
dengan mendapatkan peringkat 1 selama 3 tahun. Sempat terlintas dibenakku untuk
tidak melanjutkan pendidikan ke SMA karena kasihan melihat kondisi keluarga yang
serba pas- pasan. Tetapi keinginan itu aku kubur,aku nekad melanjutkan pendidikan
sangat kuat dengan modal beasiswa yang diberikan pemerintah dan untuk kebutuhan
sehari – hari dengan terpaksa aku harus terpisah dengan orangtua dan saudarasaudaraku, aku tinggal dengan nenekku yang mau membiayai sekolahku, sedih harus
berpisah dengan orang yang melahirkanku, tapi demi mewujudkan cita- citaku aku
harus kuat, itulah tekadku untuk berjuang hidup. Jarak sekolah dengan rumah nenekku
lumayan jauh kira- kira 20 KM dengan keadaan kendaraan yang susah, terkadang kalau
pulang sekolah aku harus jalan kaki dengan teman- teman sehingga tidak terasa
walaupun jarak yang begitu jauh. Selama sekolah SMA kuhabiskan waktuku untuk
bekerja membantu nenek dan bibi sepulang sekolah, tidak ada istilah masa- masa indah
disekolah, yang kufikirkan bagaimana aku bisa menghasilkan uang dan bisa membantu
ibuku. Alhamdulillah berkat doa ibuku, 3 tahun sekolah kulalui dengan mendapatkan
nilai yang memuaskan dengan mendapatkan juara umum. Dan aku mendapatkan
beasiswa dari perguruan negeri di Indonesia, tapi lagi – lagi karena keterbatasan biaya
akhirnya bea siswa itu tidak aku ambil. Jadi tidak ada yang tidak mungkin kalau kita
mau berusaha dengan tetap harus berdoa.

Banner Iklan Sariksa


Tekad aku sudah bulat untuk membahagiakan dan mengangkat derajat orangtuaku,
dengan berbekal ijazah SMA yang kumiliki, ku langkahkan kakiku untuk pergi merantau
jauh dari kampung halamanku, tepatnya dikota hujan bogor. Aku bekerja di pabrik
diwilayah bogor selama 1 tahun, dengan gajiku yang tidak seberapa , tiap bulan
kusisihkan untuk mengirim uang ke kampung dan sebagian untuk kebutuhanku
diperantauan. Tiba- tiba pikiranku kalau aku bekerja disini sangat lama mempunyai
tabungan banyak, dan akhirnya ku memutuskan bekerja sebagai TKW di Hongkong, tapi
nasib baik tidak memihakku, aku dipertemukan dengan majikan yang sangat jahat dan
mendapatkan kekerasan fisik dan psikologis selama 7 bulan, dan akhirnya aku
menyerah untuk pulang kembali ke Indonesia,sempat trauma dan depresi karena
mengalami kekerasan yang aku alami, beruntungnya keluarga selalu memberikan
support. Beberapa bulan dirumah untuk memulihkan trauma , ada tetanggaku yang
menawarkan pekerjaan di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Tawaran itu aku
terima pemikiranku saat itu yang penting aku bisa menghasilkan uang dan aku
berharap mudah- mudahan mendapatkan majikan yang baik supaya bisa
mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Alhamdulillah ada pepatah yang bilang ucapan
itu adalah doa, aku mendapatkan majikan yang baik sekali, setelah bekerja selama 4
tahun aku ditawarin untuk kuliah, dengan suka cita aku terima tawaran itu. Impian
untuk menjadi mahasiswa akhirnya tercapai, ku ambil kuliah yang khusus untuk orang
yang sudah bekerja dan hanya kuliah 2 kali dalam seminggu, tidak terasa 3 tahun telah
berlalu dan hari yang kunantikan akhirnya terjadi disaat acara wisuda, orang tua ku
datang dari kampung untuk menghadiri wisudaku, dengan berurai air mata mereka
bilang bangga punya anak aku. Itulah kebahagiaanku yang selama ini aku cari dengan
tetesan keringat dan air mata. Setelah selesai wisuda aku tidak langsung bekerja, aku
masih bekerja untuk majikanku yang sangat baik sebagai ucapan terima kasih sudah
memberikan kesempatan aku untuk mewujudkan cita- citaku. Dan ada pengalaman
yang sangat berkesan disaat mau sidang uangku tidak cukup untuk membayar uang
sidang, kebetulan ada teman yang menawarkan aku untuk menjadi bintang tamu di
acara TV Swasta, dan aku menerima tawaran itu dengan honor yang lumayan buat
tambahan uang sidang.


Waktu berlalu dengan cepat 9 tahun aku bekerja sebagai pembantu dan banyak
pengalaman pahit manis yang ku rasakan. Tapi aku harus tegar dan sabar demi cita –
citaku membahagiakan orangtuaku.


Dan akhirnya aku dipertemukan dengan jodohku dengan waktu yang singkat hanya 5
tahun, Allah lebih sayang kepada beliau dengan mengambil kembali ke pangkuan- Nya
dengan meninggalkan buah hati kami yang masih bayi ( 8 bulan ). Rasanya bagai bumi
ini berhenti dari peredarannnya, rasanya nano – nano, tapi hidup itu harus berlanjut
demi masa depan buah hati kami tercinta.

Allah berfirman dibalik kesulitan pasti ada hikmah dan kebahagiaan yang menanti
itulah pegangan dalam hiduku dan Allah tidak akan memberikan cobaan jika hamba
nya jika hambanya tidak mampu memikulnya. Kuncinya sabar, ikhlas dan tawakal. Dan
janji Allah itu nyata aku dipertemukan dengan seorang lelaki yang membuat hidupku
penuh warna dan merasakan menjadi orang yang paling berbahagia dimuka bumi ini
dikelilingi orang – orang yang mencintai dan menyayangiku dengan ikhlas dan apa
adanya. Dan terlebih lagi aku bisa melihat orangtua ku di sisa usianya bahagia.
Dengan perjalanan hidup ku yang penuh liku ini banyak pelajaran yang kudapatkan
yang mungkin orang lain belum tentu mampu, Allah begitu sayang padaku dengan
sering membuat kejutan – kejutan yang luar biasa, hikmah yang kudapatkan jangan
pernah putus asa, bekerja keras, jujur selalu bersyukur apa yang allah berikan kepada
kita. Insya Allah bahagia akan menanti.

Aam Aminih tinggal  di kota Indramayu, kota yang terkenal dengan buah mangganya. Ia merupakan ibu dari Naura Kayla syifa dan Shafa Alayya Shaqi.  Ia mengajar di SMKN 1 Widasari.

Tinggalkan komentar