Unsur Batin Puisi (Hakikat Puisi)
Unsur Batin (Hakikat Puisi)
Unsur puisi berikutnya setelah unsur lahir adalah unsur batin. Waluyo (1987: 106) mengungkapkan “Stuktur batin (hakikat) puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair.”
Waluyo (1987: 106) menyebut “Ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone) dan amanat (intention).”
2.4.2.1 Tema (sense)
Tema merupakan unsur penting dalam sebuah puisi. “Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.” (Waluyo, 1987: 106)
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok (gagasan utama) yang ingin disampaikan penyair kepada pembacaanya melalui puisi. Setiap puisi pasti memiliki tema atau ide utama yang hendak disampaikan. Walau terkadang penyair menyembunyikan (menutu-nutupi) persoalan yang hendak disampaikan sehingga pembaca harus bekerja keras untuk menafsirkan tema yang diusung.
2.4.2.2 Perasaan (feeling)
Perasaan maksudnya sikap penyair terhadap gagasan utama sebuah puisi yang diciptakannya. Lebih jauh Waluyo (1987: 121) menyatakan bahwa “Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakannya berbeda pula.”
Berdasarkan pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa terhadap tema yang sama bisa jadi terdapat ragam puisi yang berbeda, itu dipengaruhi sikap penyair terhadap tema atau persoalan tersebut. Misalkan, sikap terhadap peminta minta, sikap Chairil Anwar dan Toto Sudarto Bachtiar berbeda. Lihat puisi Chairil Anwar berikut:
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua dimuka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Mengempas aku dibumi keras
Dibibirku terasa pedas
Mengaum ditelingaku.
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dari segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
(Deru Campur Debu dalam Tarigan, 2001: 15)
Berikut puisi karya Toto Sudarto Bachtiar.
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah-jambu
Tap kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil,
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira ria kemanjaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda
(Bachtiar dalam Tarigan, 2001: 16)
Setelah mengamati dua puisi di atas kita dapat melihat bahwa tema keduanya sama, tentang peminta-minta. Namun ternyata sikap setiap penyair berbeda. Chairil Anwar memandang peminta-minta dengan sinis, bahkan benci. Sebaliknya Toto Sudarto Bachtiar memandang peminta-minta dengan sikap simpati dan penuh belas kasihan. Begitulah, perasaan (sikap) penyair menentukan puisi yang tercipta.
2.4.2.3 Nada (tone)
Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang disampaikan melalui puisi. Hal tersebut ditegaskan oleh Tarigan (2001: 18) yang menyatakan bahwa nada adalah “Sikap penyair terhadap para penikmat karyanya.”
Nada tersebut dapat berbentuk sikap menggurui, menasihati, menghina, mengejek, menyindir, memprovokasi, memuji atau bisa jadi bersifat lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Nada ini sering dihubungkan dengan suasana, karena puisi menimbulkan suasana kepada pembacanya. Hal tersebut ditegaskan oleh Waluyo (1987: 125) yang menyatakan “Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.”
Berikut adalah contoh puisi yang mencerminkan nada keberanian, pengorbanan berjudul “Dari Catatan Seorang Demonstran” karya Taufik Ismail.
Dari Catatan Seorang Demonstran
Inilah peperangan
Tanpa jendral, tanpa senapan
Pada hari-hari yang mendung
Bahkan tanpa haapan.
Di sinilah keberanian diuji
Keberanian dihancurkan
Pada hari-hari berkabung
Didepan menghadang ribuan lawan.
(Ismail dalam Tarigan, 2001: 21)
2.4.2.4 Amanat (Intention)
Amanat adalah intisari pesan/tujuan yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca. Waluyo (1987: 130) mengungkapkan “Tujuan/amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.”
Setiap puisi memiliki amanat yang hendak disampaikan, walaupun kadang kala penyair sendiri bisa jadi tidak sadar akan amanat yang diberikan. Hal itu dikuatkan oleh Waluyo (1987: 131) “Banyak penyair yang tidak menyadari apa amanat puisi yang ditulisnya.” Namun bagaimanapun, karena penyair memiliki kelebihan dalam hal meresapi, merenungi dan menghayati kehidupan ini dibandingkan manusia biasa, maka di dalam karyanya terkandung amanat yang bermanfaat.
Amanat berbeda dengan tema. Waluyo (1987: 131) menerangkan bahwa “Tema berhunguan dengan arti karya sastra, sedangkan amanat berhubungan dengan makna karya sastra (meaning dan significance). Arti karya sastra bersifat lugas, obyektif, dan khusus, sedangkan makna karya sastra bersifat kias, subjektif dan umum.”
Lebih jauh Waluyo (1987: 131) mengungkapkan bahwa “Rumusan tema harus objektif dan sama untuk semua pembaca puisi, namun amanat sebuah puisi dapat bersifat interpretatif, artinya setiap orang mempunyai penafsiran makna yang berbeda dengan yang lain.”

