Kumpulan Puisi untuk Ayah
Kumpulan Puisi Ayah
Sajak Sederhana untuk Ayah
Prito Windiarto
Ayah, bapak, abah, abi atau apapun kami menyebutmu.
Namamu mungkin tak setenar ibu, di puisipuisi
Lebih sering istrimu itu yang disebutsebut penuh keharuan
Meski begitu kami tahu yah,
Tak ada sedikitpun iri, untuk itu
Karena kau pun begitu mengistimewakan sosok itu : ibu
Yah,
Kisahmu mungkin tak seheroik kisah ibu dalam sajaksajak
Walau kami tahu, pengorbananmu lebih dari kata itu
Pak,
Kau dinomorduakan anakanakmu ketika dirindukan, dipanggil
Tapi tak ada marah
Karena kau tahu, ibu adalah pembuka sementara engkau yah, penutup, penuntasnya.
Dekapanmu, elusanmu, tatapanmu, mungkin tak sehangat ibu
Tapi kami tahu, perhatianmu lebih dalam. Lebih dari sekadar emosi. Ia adalah maket kehidupan untuk anakanakmu.
Kau tak punya hari khusus yah. Karena engkau, kasihmu, layak diperingati setiap hari.
Sedikit balas atas peluhmu yah
Terima kasih yah
—
Sajak amat sederhana untuk para ayah. Kalau kata bang Andrea Hirata , ayah nomor #1 seluruh dunia.
Selayak Purnama
Prito Windiarto
Selayak purnama
Begitu aku mengibaratkanmu, yah
Menghangatkan di saat dingin
Menerangi gulita
Meski tak terang
Namun menenangkan
Seperti air
Itulah mitsilku untuk kebaikanmu, yah
Yang mengalirkan segenap peluhmu
Mencari segenggam rezeki
Bagi kami
Jernih
Tanpa pamrih
Semisal Bunga
Demikianlah tamsilku untukmu, yah
Harum, mewangi
Namun rela mengorbankan segenap jiwa
Untuk kami
Putra-putrimu
Kau segalanya yah,
Memberi, tiada minta kembali
Mengasihi, tiada ingin diupahi
Berkorban, tanpa ingin balasan
Semoga,
Baktimu, selalu
Berkenan,
Serta mulia
dihadapanNya.
Mengeja Namamu
Prian Alfan
Kueja namamu : ayah
Perlahan, dalam diam
Sediam engkau
Ucap, nasihatmu tak sesering pendampingmu
Namun petuahmu
Menohokku
“Jadilah bijak dan arif, dunia semakin runyam, orang jahat berseliweran. Jangan jadi bagian mereka”
—
Diammu adalah renungan
Sikap tegasmu adalah jelmaan kuasa
Kuasa untuk mengayomi, mengasihi
—
Lelahmu tersembunyi di balik senyum itu
Keruwetan hidup tersamarkan lewat sikap tenangmu
—
Dunia yang semakin kejam memaksamu, bekerja lebih keras, lebih cerdas.
Hidup yang kian keras membuatmu harus mengerahkan segenap energi
Untuk :
Istrimu yang kadang lebih sering mengomel tinimbang berterimakasih atas rezeki yang hadir lewat perantaramu
Putramu yang lebih banyak meminta, namun susah sekali diatur.
—
Seperti tuba.
Tapi kau tak menganggap begitu.
Karena istri adalah teman hidupmu: dunia akhirat.
Tersebab putra ialah mutiara kasihmu : selamanya
Terima kasih para ayah. Dunia “terang” karena usahamu menjemput asa bagi keluarga.
Elegiku Bersama Ayah
Prian Alfan
Bersamamu, yah
Kusambut pagi ini
Beriiring langkah
Menjemput impian: ucapmu
Melewati rimbun
Semak
Menerobos gelap
Angkernya hutan ini
“Pergilah nak
Menuju masa depanmu
Secerah mentari pagi
Yang kau saksisan dari bukit itu”
Nasihatnya
Mengiringku yang pergi
Menebobos bukit barisan
Menuju tempat menuntut ilmu
Tiba di pinggiran kampung,
Terminal sederhana di kota kecilku,
Matahari mulai meninggi
“Selamat jalan nak,
Ayah, juga ibumu, hanya bisa mengantarmu sampai sini
Selepas itu
Perjalananmu kau tempuh sendiri
Selayak, perjalanan hidupmu
Yang jua
Kau retas sendiri
Berangkatlah nak, doaku, doa ibumu, doa saudara sekampungmu
Menyertai
Semoga, Ia Sang Pemilik Semesta meridhiomu”
Ucap ayah semberi menepuk pundaku
Jalanan ini kutinggalkan
Berbekal senyum ayah, doa ibu,
Menjelang hasri depan ceria
**
Jika bermanfaat mohon berkenan bantu share ya, demikianlah Kumpulan Puisi untuk Ayah

